Siapa yang mau Belajar mati sebelum datangnya Mati, Maka
dia akan hidup Abadi
Didalam menyampaikan sesuatu pendapat, wacana
serta dalam melaksanakan suatu amaliyah hendaknya kita memiliki pedoman dan
dasar yang kuat agar kita tidak tersesat. Oleh sebab itulah Rosulullah
SAW. Berpesan :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ,
لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا. كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِ
اللهِ.
Aku tinggalkan untuk kalian dua pedoman, selamanya engkau tidak akan
tersesat. Selagi mau berpegang teguh dengan keduanya. Kitabullah (al-Qur’an)
dan Sunnah Rasulullah SAW. (HR. Muslim).
Dari
Hadits terebut dapat difahami bahwa jika kita tidak ingin tersesat untuk selama-lamanya,
maka untuk memahami segala sesuatu haruslah berbedoman pada al-Qur’an dan
Sunnah Rosul-Nya.
Pertama, membahas
tentang :”Belajar mati sebelum datangnya
Mati”. Berdasarkan sabda beliau SAW. bagi orang-orang
yang mampu merasakan mati sebelum datangnya mati adalah orang yang senantiasa
mau berdzikir kepada Alloh SWT. (tentu dengan cara khusus sebab dzikir # ingat
atau eling). Oleh sebab itu rosulullah SAW. membuat perumpamaan :
مَثَلُ
الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang senantiasa berdzikir kepada Rob (Tuhan
Pendidikn)-nya dan orang yang tidak mau berdzikir, adalah ibarat orang hidup
dan mayyit (bangkai). (HR. Bukhari dan Muslim).*(lihat.blog al-burinji I-11).
Sehingga
orang yang senantiasa mau berdzikir itu akan dikayakan oleh-Nya dan mereka
tidak lagi fakir (butuh) kepada yang selain-Nya. Sebab dunia dan segala isinya
hanya hanyalah semisal sepercik air berada diujung jari, itulah yang
diperebutkan oleh kebanyakan manusia di dunia. Rasulullah SAW. bersabda :
مَا مَثَلُ اَلدُّنْيَافِى
اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ اَحَدُكُمْ اِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ
فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ.
“Tidaklah permisalan dunia bila dibandingkan akhirat, terkecuali tak seubahnya
orang yang mencelupkan jari tangannya kedalam lautan lalu diangkatnya, maka
yang dilihat terhadap apa yang tersisa (di ujung jari itulah dunia)”. (HR.
Muslim dan Ibnu Majah).
Alloh
SWT. Dengan sifat kalam-Nya Berfirman :
مَا
عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ
صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
“Apa saja yang berada di sekitarmu bakal sirna, dan apa saja yang ada di
sisi Alloh bakal abadi selama-lamanya. Dan sungguh Kami akan memberi pahala
kepada orang-orang sabar dengan (sesuatu) yang lebih baik dari apa yang mereka
kerjakan”. (QS. an-Nahl : 96).
Maka
dapat dipahami bahwa bagi mereka yang banyak berdzikir kepada Alloh SWT. akan
bermanfaat dapat mengkikis ke-Aku-an dirinya, akan mampu mensirnakan
kepemilikannya, akan mengakui kelemahan dirinya, mengakui segala kekurangannya,
mengakui....., mengakui..... dan mengakui..... kemudian menyadari bahwa dirinya
adalah hamba (budak)-Nya, dengan demikian mereka benar-benar dapat melihat akan
kehebatan dan kebesaran tuhan-Nya. Bagaimana Dia tinggikan langit tanpa tiang
dan bumi tanpa gantungan dsb. Oleh sebab itulah para ‘ulama mengatakan :
مَنْ عرَفَ نفْسَه فَقد
عرَفَ ربه.
“Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhan-Nya”.
Adapun tentang pemahaman
“Ruh” itu adalah sebagaimana berikut :
I. RUH (رُوْح)
Berdasarkan
firman Alloh :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ
رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا(85)
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu
termasuk Amriy (urusan) Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit". (QS. Al-Isra’:85).
Didalam
al-Qur’an kata “Ruh” disebutkan sebanyak 9x. Kata “Ruh” (رُوْح) tanpa “al” disebut 1x.
pada QS. an-Nahl [16]:102 dan kata “ar-Ruh” (الرُّوْح) disebut 8x. Pada QS. an-Nahl [16]:2. QS. Al-Isra’ [17]:85
(2x), QS. Asy-yu’araa’ [26]:193, QS. Al-Mu’min [40]:15, QS. Al-Ma’aarij [70]:4.QS.
An-Naba’ [78]:38.QS. al-Qodr [97]:4.
Pada
ayat tersebut di atas dapat difahami menjadi 3 bagian:
1.
QS. an-Nahl [16]:102 sehubungan dengan “Ruhul Qudus” (Ruh Suci) adalah merupakan julukan Malaikat
Jibril tatkala berada di Sidratil Muntaha, pada saat membawa Kalam (Firman)
Qodim-Nya..
2.
QS. Asy-yu’araa’ [26]:193. Sehubungan dengan
“ar-Ruhul Amin” (Ruh yang Amanah) yang dapat mengamankan. Kalam Qodim-Nya yang
turun bersamanya menuju Baitul Izzah (Rumah Kemulian) di langit yang pertama
(dunia).
3.
QS. An-Naba’ [78]:38 sehubungan dengan “Ruh”
adalah merupakan julukan Malaikat Jibril tatkala berada di dunia (bumi) yang
mengurusi semua urusan manusia.
4.
Atau secara khusus tentang “Ruh” itu sendiri disebut
sebagai “Ruhul Amri”.
Adapun
tentang “Ruhul
Amri” ini sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an pada masa peniupan
Ruh kepada nabi “Adam”. Yang disebut 2x yaitu: QS. Al-Hijr [15]:29. QS. Shood
[38]:72.
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (urusan)-Ku, maka tunduklah kamu sekalian (malaikat)
kepadanya dengan bersujud”. QS. Al-Hijr [15]:29.
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya (Adam) dan Kutiupkan
kepadanya ruh (urusan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". QS.
Shood [38]:72.--> Lihat (QS. Al-Isra’:85) terebut diatas.
Jadi
secara jelas pada ayat tersebut kata “Ruhiy” (Ruh-KU)
yang dimaksud adalah “Ruhul Amriy”, artinya untuk peniupan “Ruh” kepada Nabi
Adam (manusia pertama) itu adalah “Ruh Urusan Alloh sendiri” secara khusus. Sehingga semua malaikat diperintah oleh
Alloh SWT. Untuk BERSUJUD kepada ADAM. Dan atas perintah-Nya itu kemudian seluruh
Malaikat bersujud kepada Adam kecuali
Iblis. Sebab Iblis (golongan Jin) itu mengetahui bahwa “Min Ruukhiy” adalah mahluk maka
Iblis tidak mau berujud kepada Adam. Sehingga mereka dikutuk dan diberi tangguh
oleh Alloh SWT. Sampai hari yang ditentukan. (sebaiknya baca ayat selanjutnya).
(Perhatikan tentang hal ini disebutkan dalam Surat al-Hijr [15] dan Surat Shood [38].
Tentang Rahasianya akan dibahas secara khusus ditempat yang lain).
Adapun
terhadap kejadian manusia secara umum “ditiupkan kepada mereka “Ruh”
(urusan)-Nya (Ruhul Amri) bukan “Min Ruuhiy”, (Ruh
(urusan)-KU) tetapi
“Min Ruukhihi” (Ruh (urusan)-Nya), dan
di dalam al-Qur’an hanya disebutkan 1x. Yaitu pada QS. As-Sajadah [32] yang
artinya “BERSUJUD” yang terdapat pada aya ke 9.
(Perhatikan disebut 9x
dan QS. 32: 9)
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. QS.
As-Sajadah [32]:9.
Adapun
tentang kata : “Ruh atau ar-Ruh” itu, sehubungan dengan malaikat Jibril yang
disebut sebagai “Ruhul Qudus”, “Ruuhul Amiin” dan “ar-Ruuh” serta “Ruhul Amri”
itu disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 9x. Dan semuanya “BERSUJUD” kepada Adam.
Akan tetapi anak cucu Adam diperintahkan “BERSUJUD”
kepada Alloh SWT. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia itu melainkan supaya mereka
menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat [51]:56).
Berdasarkan
al-Qur’an terdapat dua tugas dan jabatan khusus bagi manusia di dunia ini yaitu
:.
Pertama, manusia bertugas sebagai
: “Abdulloh” atau “Hamba Alloh” yang
harus senantiasa mengabdi, tunduk dan patuh kepada-Nya. (QS. adz-Dzariyat
[51]:56).
Kedua, manusia bertugas
sebagai “Kholifatullah” atau “Wakil Alloh”. “Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
(QS. a-Baqarah [2]:30).
Manusia
bertugas membawa dan menebarkan kasih sayang bukan saja kepada sesama manusia
tetapi juga membawa rahmat dan kasih sayang kepada mahluk yang lainnya. Maka
Alloh SWT. melarang manusia bersujud kepada sesama manusia. Rasululloh bersabda
: “Jika dibolehkan manusia bersujud kepada sesama
manusia maka aku akan perintahkan seorang istri itu bersujud kepada suaminya”.
وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّّّمكُمُ اللهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيْمٌ.
“Maka bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah,
niscaya Allah akan mengajari kamu, dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Tahu”.
(QS. Al-Baqarah [2]: 282).
Maka
dari sinilah sehingga para wali mencanangkan sebuah pelajaran khusus pula, sebuah
pelajaran yang sangat dirahasiakan dan hanya diberikan kepada orang-orang
tertentu saja. sebagaimana dibahas oleh sdr. Asnar
dkk. Dalam obrolan al-Burinji tersebut.
Ada
9 ruhul Amri (ruh yang berhubungan dengan urusan manusia) yang diberikan untuk
kehidupan manusia (Ruhul Hayat) agar Alam semesta menjadi rahmat dan aman
sentosa.
1.
Ruh Idhofi (روح
إيظافي) atau penyandaran
prilaku diri manusia kepada sifat ketuhanan, Ruh idhofi sebagai tugas
Kholifatullah Fil Ar’dhi (wakil Alloh di muka bumi).
2.
Ruh Robbani (روح
ربني ) atau penyandang sifat
pendidik (guru) untuk mengajarkan kepada manusia agar memahami tugas-tugas yang
harus dijalaninya dan bagaimana mengetahui terhadap seuatu yang diperintahkan
dan yang dilarang oleh sang Kholiq (Pencipta) dirinya. Tugas ini secara
khusus.diberikan oleh Alloh SWT. kepada kedua orang tuanya. Sehingga beliau
SAW. bersabda : “Ridhonya Robbi (Tuhan,
pendidik) terletak pada ridho kedua orang tua, dan marahnya Rabbi (Tuhan,
Pendidik) terletak pada ridhanya kedua orang tua”
(HR. al-Hadits). Sehingga dalam pepatah jawa dikatakan: “Wong tua loro koyo Pengeran kang Katon”
atau “kedua orang tua itu seperti Tuhan yang kelihatan” di dunia ini.
3.
Ruh Ruhani (روح
روحاني) adalah perangkat pengenalan
kepada Tuhan pada tempat senbenarnya, yang bersih dan suci dari ingatan,
pengetahuan, pemikiran, angan-angan, pendengaran dan lain sebagainya, artinya
ruang Ruhani itu suci dari semua perangkat indrawi manusia.
4.
Ruh Nurani atau Nur’aini (روح نورين) atau juga biasa disebut ebagai “Nurul Bashirooh” yaitu
ketajaman pandangan kedua Mata hati. Oleh sebab beliau bersabda :
اِتَّقُوْا فِرَسَةَ الْمُؤْمِنِ, فَاِنَّهُ يَنْظُرُ
بِنُوْرِ اللهِ
“Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin, sesungguhnya dia itu
memandang dengan nur Allah SWT. (HR. At-Tirmidzi dan
Ath-Thabrani).
5.
Ruh Qudus (روح
القدس) adalah perangkat
kemalaikatan, orang yang menyandangnya tentu akan berprilaku “kesucian” seperti
malaikat sehingga ia didalam hatinya akan senantiaa meng-Qudus (mensucikan)
Alloh WT” saja.
6.
Ruh Rahmani (روح
رحمني ) adalah perangkat yang
menggerakkan sifat ke-rahman-nya, adapun penyandangnya akan senantiasa memiliki
sifat “Rahman” atau pengasih dan penyayang kepada suapapun saat di dunia ini.
Namun walau bagaimanapun mereka tidak diberi “Ruh Rahiimi” karena ini merupakan
“Ruh Amriiy” atau “min Ruukhiiy”. Dan hal ini akan diberikan oleh Alloh SWT. di
akhirat di akhirat nanti.
7.
Ruh Jasmani (روح
جسَدي ) atau biasa disebut “Ruh Jasadi” adalah
“Ruhul Amri” yang berhubungan dengan jasad atau jasmani yang bergungsi hanya
menggerakkan tubuh jasad ini. Jika telah lepas maka tubuh jasad itu tak akan mampu
bergerak lagi dan lenyap bercampur tanah kembali.
8.
Ruh Nabati (روح
نبتي) adalah bersifat kepasrahan tanpa mengeluh walau dalam kondisi
panas atau dingin, serta senantiasa pasrah dalam kondisi apapun laiknya
“tumbuhan”.
9.
Ruh Hewani (روح
حيواني) adalah bersifat
“Syahwat terhadap” lawan jenisnya (tentu untuk manusia terdapat syar’i yang
mengaturnya) dan tak ada satupun hewan yang melampiaskan Syahwat kepada
sejenisnya, hal ini sebagai tugas manusia agar melanjutkan keturunannya.
Dan
masih terdapat lagi 1 ruh yang sesungguhnya telah ditiupkan bersama ruhul Amri
yang lainnya yaitu (10) Ruh Haqiqi
(Ruh Sejati atau Ruh Nafsi), dan ruh inilah pada saat ditiupkan dalam kandungan
ibunda itu mereka telah diambil sumpah dan persaksiannya. Hal ini sebagaiamana
firman-Nya.
“Dan (ingatlah), ketika Rab (Tuhan)-mu mengeluarkan keturunan anak-anak
Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian (perjanjian terhadap) anfus
(jama’ nafs) mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Rab (Tuhan)-mu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sungguh kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah (lalai) terhadap (persaksian)
ini ". (QS. al-A’rof [7]:172).
Adapun
agar manusia itu bisa “Oerip sa’ jeroning oerip.
mulang ka jati ka asal sampurno” atau “hidup di dalam hidup. kembali ke asal sempurna”,
maka dirinya diwajibkan untuk menjaga 9 (sembilan) lubang jasadnya. Adapun
kesembilan lubang itu adalah 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung,
1 lubang mulut, 1 lubang qubul dan 1 lubang dubur. Kesemua lubang itu wajib
dijaga dari suatu yang dilarang atau diharamkan oleh Alloh SWT.
Maka
di dalam syari’at islam telah diperintahkan agar orang yang beriman dalam
sehari semalam minimal semua lubang tersebut harus di sucikan pada saat mau
mendirikan Sholat. Dengan demikian sholat adalah merupakan amalan paling utama
dan dia merupakan tiang agama bagi seseorang. Sehingga beliau SAW. bersabda: “yang pertama kali dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat nanti oleh
Alloh SWT. adalah “ash-Sholah” (Sholatnya), barang siapa baik sholatnya maka
baik pula seluruh amal-amal yang lainnya. Dan barangsiapa jelek sholatnya, maka
jeleklah seluruh amal perbuatannya” (al-Hadits).
Dan
pada sabda yang lain beliau menyampaikan: “Barangsiapa
meninggalkan sholat dengan sengaja maka dia telah kafir terang-terangan”
(HR. Ahmad). Dan diperjelas pula “Bahwa perbedaan antara orang kafir
dan orang beriman itu terletak pada shalatnya” (HR.
At-Tirmizi)
Dari
kesembilan lubang tersebut masih terdapat 1 (satu) lubang lagi, yaitu satu
lubang yang sangat penting dan sangat vital bagi manusia yaitu “Lubang Sperma”
yang disimpan pada lubang qubul. Sehingga bagi siapa saja yang mau berhajat
disunnahkan untuk berdo’a secara khusus agar anak yang mau dilahirkan tersebut
akan menjadi anak yang sholeh. Dan anak inilah nantinya jika kedua orang tuanya
telah meninggal dunia do’anya akan senantiasa dikabulkan oleh Alloh SWT.
Maka
terhadap orang-orang yang demikian itu, Alloh SWT. telah mengingatkan :
“Janganlah kamu sekali-sekali mengira (menyangka) bahwa orang-orang yang
gugur (mati) di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya
dengan mendapat rezki”. (QS. Ali Imran [3[:179).
II. ROUH (رَوْح)
Adapun
kata: “Rouh” (رَوْح) di dalam al-Qur’an disebutkan 2x dan semua kata tersebut
dihubungkan dengan lafdul Jalalah “اللَّهِ “ menjadi “رَوْحِ اللَّهِ” yaitu pada QS. Yusuf [12]:87. Sebagaimana berikut:
يَابَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ
وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ
اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ.
“(Ya’qub berkata) Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita
tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari Rouhillah (rahmat
Allah). Sesungguhnya tiada berputus asa dari Rouhillah (rahmat Allah), melainkan kaum
yang kafir". (QS. Yusuf [12]:87).
Maka
kata “رَوْحِ اللَّهِ” (Rouhillah) itu merupakan kata yang sulit untuk
diterjemahkan, sebab memang kata tersebut merupakan kata yang penuh mengandung
“Rahasia” dan hanya ditunjukkan maksudnya bagi mereka yang telah ditunjukkan
oleh Alloh sendiri, maka untuk itu perhatikan ayat sebelumnya.
“Ya`qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan
kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui
dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya."
(QS. Yusuf [12]:86).
Adapun
kata “Ruhullah” (رُوْحُ اللَّهِ ) di da;a, a;-Qur’an tidak ada. Walloohu A’lam
Bish-Showab.