MANUSIA Satu SAUDARA




Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saing berta'aruf (tukar kearifan). Sungguh orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Pemberi Khabar (berita baik). 
QS. Al-Hujurat[49]:13)
  
Mayoritas ulama berpendapat, Adam dan Hawa diturunkan secara terpisah (Adam di India, Hawa di Jeddah). Keduanya kemudian bertemu di Jabal Rahmah, di bukit 'Arafah. Adanya keyakinan bahwa pertemuan Adam dan Hawa di bukit 'Arafah tersebut, kemudian di tempat itu dikukuhkan dengan dibangunnya sebuah tugu oleh pemerintah Arab Saudi.

Tugu 'Arafah itu kini menjadi peringatan sangat 'penting'. Agar  manusia tetap menyadari bahwa mereka adalah " SATU Saudara, SATU Ummat ", yang berasal dari diri yang SATU yaitu "Bapak Adam" dan dari Adam kemudian di ciptakanlah "Ibu Hawa" sebagai istrinya.

" Hai semua manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari yang SATU, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya, hendaknya kamu saling tanya-menanyai (tentang ikatan persaudaraan itu) satu sama lain. Dan peliharalah hubungan Silaturrahim . Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa' [4]:1)

Dari sinilah sejarah manusia berawal, dari sebuah penjuru bukit, manusia mulai berkembang biak hingga berubah menjadi desa, kota, negara dan bahkan berkembang menjadi berbagai macam bangsa-bangsa di dunia.
 
Dari 'Arafah-lah, awal bahasa manusia dimulai, kemudian berkembang menjadi jutaan bahasa-bahasa manusia di belahan bumi manapun. Dari 'Arafah-lah cikal bakal budaya manusia bermula, berkembang hingga menjadi aneka kebudayaan yang mewarnai kehidupan manusia. Itulah korelasi peradaban manusia dengan 'Arafah yang setelah itu dijadikan Rukun Ibadah Haji dan menjadi penentu sah atau tidaknya Haji seseorang.

Maka tidak sah Haji seseorang kecuali ia harus wuquf (menginap) di 'Arafah. "Inti ibadah Haji adalah wuquf di 'Arafah. Barangsiapa yang mendatanginya (untuk wuquf) sebelum datangnya waktu subuh pada malam Muzdalifah maka Hajinya telah sempurna". (HR. Abdurrahman Ibn Ya'mar al-Dili, Ibn Abbas, Ibn Umar, Jabir Ibn Abdullah dan Urwah Ibn Mudhris).

Disebutkan dalam Kitab Injil, Mazmur 118:20-28. selengkapnya adalah sebagai berikut:

118:20:  Inilah pintu gerbang TUHAN (Baitullah), orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.
-“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(QS. Ali Imran [3]:97).

118:21: Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.-.

Labbaikallah Humma Labbaika = kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah, yang tidak ada serikat   bagi-Mu. BagiNya Kerajaan, dan bagiNya segala pujian, dan Dia atas segala seseuatu Maha kuasa. 
118:22: Batu yang dibuang (dibangun) oleh tukang bangunan (Ibrahim) telah menjadi batu penjuru.- Maka berita dalam Matius 21:42 itu memang benar-benar menakjubkan, dan batu yang dibuang itu sekarang telah nyata menjadi “batu Penjuru”, dimanapun manusia berada, baik di belahan bumi manapun atau keluar dari bumi sekalipun, tatkala beribadah kepada Allah SWT. 

Maka wajib memusatkan arah pandangannya harus tertuju pada arah baitul Haram (ka’bah). “Allah telah menjadikan Ka`bah, rumah suci itu sebagai pusat (penjuru arah peribadatan) bagi manusia,” (QS. Al-Maidah [5]: 97). “Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram (Ka’bah). 

Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah (bantahan) bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2]:149-150). 

Dan Cara Ibadah Shalat itu harus dilakukan dengan SATU SUARA dengan berbahasa Arab (al-Qur’an), dan tidak boleh digantikan dengan bahasa yang lain.


To be Continued .....

No comments:

Post a Comment