Abstraksi Kitab Hikam






Syaich Ibnu Athoillah Asy-Syakandary






Al-Hikam




Berlabuh Kehadirat Tuhan

( Merajut Serpihan Cahaya )









Ust. Ismail Idris Musthofa














Abstraksi
      Kitab Hikam karya Syaich Muhammad Ibnu Athaillah as-Sakandary ini, merupakan kitab mutiara-mutiarah hikmah yang monumental sepanjang sejarah, dan bahkan telah diterjemahkan dengan beratus-ratus bahasa di belahan dunia. Dengan gaya prosanya, Ibnu Athaillah memang mampu mengungkapkan falsafah hikmah secara arif dan bijaksana. Dengan untaian kalimatnya yang santun, sarat dengan wejangan dan fatwa supra spiritualitas berbobot, tentu sangat dibutuhkan oleh setiap insan beriman sepanjang sejarah kehidupan mereka. Sebab pesan-pesannya sangat sejuk dan menawan, serta mengalir seirama lantunan puisi.
      Memang sudah banyak penulis penerjemahan dan penafsiran kitab tersebut, namun disayangkan kebanyakan mereka hanya mampu menyentuh sisi kulitnya saja. Tidak terungkapnya mutiara hikmahnya, barangkali disebabkan kitab tersebut banyak mengandung kalimat “pertentangan kreatif”, dan istilah bahasa Arab yang kurang jamak dipakai. Apalagi dirangkai dengan gaya irama dan model puitika yang “tak lumrah”. Di sisi lain, juga betapa rumitnya mencari padanan kata dari istilah yang diungkapkan oleh Ibnu Athaillah.
      Wacana “merajut serpihan cahaya” ini, sengaja menjabarkan dan mengungkapkannya seirama padanan kata atau istilah yang paling terdekat. Tentu dengan mencari pemaknaan yang pas bagi kata dan istilah yang ada, dengan tetap memperhatikan kandungan isi utama, tanpa menghilangkan intisarinya yang seiring dengan jiwa al-Qur'an dan as-Sunnah. Maksud penerjemahan dan pemaknaan semodel ini, diharapkan agar bisa mengungkap kandungan isi terdalamnya. Dengan demikian, akan bisa dimanfatkan untuk mencari solusi bagi silang-sengkarutnya problematika kehidupan pada zaman kekinian; dari masalah manajemen perekonomian, hingga manajemen waktu, qolbu dan ilmu.
Penjabaran semodel ini mengajak kita “Belajar Memandang Jauh kedepan”. Agar wacana menjadi terbuka luas, wawasan semakin cemerlang dan hatipun kian bersih dan tentram. Sehingga kita “tidak sebegitu gampang menyalahkan orang. Sebab hidup adalah ujian dan hanya Dia yang berhak menentukan hasil kelulusan”. Terhadap problematika kehidupan, betapa mudah mencari solusi dan lebih arif dalam menyikapi. Bahkan terhadap masalah sangat pribadi. Semisal tatkala sakit gigi. Cuma satu, seluruh tubuh merasakan sakitnya. Bagaimanakah jika gigi itu sakit semuanya?. Satu kita sambhati, yang 31 lupa untuk mensyukuri. Dengan begitu rasa sakitpun akan berkurang atau hilang sama sekali.
Bagi yang terbiasa “memandang dekat”, baginya pangkat dan jabatan adalah derajat dan ketinggian. Jika demikian, maka kesibukan mereka hanyalah berputar-putar sebatas bingkai arah jarum jam. Sudah semestinya hikmah itu berada di depan dan bukan di belakang. Kemudian memahami bahwa haq dan bhatil itu tidak identik dengan benar dan salah. Sebab sesuatu yang baik, bila kita tidak mampu menuai hikmah akan menjadi bhatil. Dan seburuk apapun, jika kita sanggup memetik buah hikmahnya akan menjadi Haq pula. Sehingga mukmin sejati tidak akan mungkin terjerumus, dan seandainya terjerembabpun tiada mungkin terjadi dua kali pada lubang yang sama. “Barang siapa diberikan baginya hikmah, sungguh dia telah diberi kebaikan yang banyak sekali”. (QS. al-Baqarah [2]: 269).    
      Yang pasti, untuk dapat mengantarkan dan menujuNya, memang dibutuhkan sebuah hati yang cerdas, pemikiran cemerlang, kreativitas tiada henti, serta rasa syukur dan keikhlasan yang tiadatara. Sebab Dia begitu dekatNya, siapapun berhak mendekatiNya. Andaikan Dia udara, maka siapapun berhak menghirupnya; seumpama air maka siapapun berhak meminumnya, tidak perlu bersusah-payah. Sebab “agama” itu mudah jangan dipersulit, “agama” itu indah jangan dikotori. Dengan itulah kita akan menemukan nuansa indahnya bersafari di dalam kebun-kebun SURGA-Nya. 
Ismail Idris Musthofa 

No comments:

Post a Comment