10. وَاْلاَعْمَالُ اَنْتَ
مُهْدِيْـهَا اِلَيْهِ. وَاَيْنَ مَاتُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّاهُوَ
مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ
Dan adapun laku
amal yang engkau persembahkan untuk-Nya. Manakah sebanding yang engkau
peruntukkan bagi-Nya dengan banjirnya hadiah yang diberikan padamu ?.
Sama sekali tak sebanding, sebanyak apapun amal yang kita persembahkan
untuk-Nya, tak mungkin sebanding dengan anugerah pemberian-Nya untuk kita. Bahkan
tak pantas kiranya kita mengakui telah banyak berbuat amal kebaikan, sebab
dekat kita dengan berbagai amal kebaikan yang kita persembahakan bagi-Nya,
adalah sebab kasih sayang-Nya. kita mampu melakukan semua amal kebaikan itu
juga atas pertolongan-Nya, bukan lantaran diri kita sendiri.
وَإِنَّ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Jika engkau menghitung
nikmat-nikmat Allah, engkau tak akan sanggup menghitungnya. (QS. Ibrahim : 34).
Maka masuk surganya hamba itu juga bukan lantaran banyaknya amal
hamba, melainkan karena rahmat dan kasih sayang-Nya. Walau demikian kita sudah
seharusnya bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, jika barangkali qadar kita
buruk, maka Allah akan menggantinya dengan kebaikan. Jika takdir kita di
neraka hanya Dia yang dapat merubahnya masuk Surga. Namun terhadap semua ini rasulpun
memberi syarat, sebagaimana berikut :
اَرْبَعَةٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ, بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ,
وَكَانَ فِى نُوْرِ اللهِ اْلأَعْظَمِ : مَنْ كَانَتْ عِصْمَتُهُ لاَإِلهَ
اِلاَّاللهُ, وَاِذَا اَصَابَ حَسَنَةً قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلّهِ. وَاِذَا اصَابَ
ذَنْبًا قَالَ: اَسْتَغْفِرُ اللهَ. وَاِذَا اَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ قَالَ: اِنَّا
لِلّهِ وَاِنَّااِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ.
Ada empat hal, barangsiapa
memilikinya, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga, dan ia
senantiasa di dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. (1) Orang yang berpegang
teguhnya “ Laa Ilaaha Illallah”. (2) (orang) yang apabila mendapat kebaikan ia
mengucap : “Alhamdulillah”. (3) (orang) yang jika berbuat dosa (salah) dia
mengucap : “Astaghfirullah”. (4).(orang) yang jika ditimpa musibah dia berkata
: “Inna Lillaahi wainna Ilaihi Raajiuun”. (HR. Ad-Dailaami).
Adapun
bagi kita yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, yang pertama harus
diketahui adalah sejauh manakah keberadaan Allah SWT. dalam dirinya.
مَنْ كَانَ يُحِبُّ اَنْ يَعْلَمَ مَنْزِلَتَهُ عِنْدَ
اللّهِ فَلْيَنْظُرْكَيْفَ مَنْزِلَةُ اللّهِ عِنْدَهُ.فَاِنَّ اللَّهَ يُنْزِلُ
الْعَبْدَ مِنْهُ حَيْثُ اَنْزَلَهُ مِنْ نَفْسِهِ.
Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka
perhatikanlah bagaimana kedudukan Allah pada dirinya. Sesungguhnya Allah
berkedudukan pada diri hamba, sejauh manakah hamba menempatkan Allah pada
dirinya. (HR. Al-Hakim).
No comments:
Post a Comment