I.5 KESUNGGUHAN TERHADAP YANG TELAH DIJANJIKAN dan KETELEDORAN TERHADAP YANG TELAH DIWAJIBKAN



5. اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضَمِنَ لَكَ, وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ, دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ  

Kesungguhanmu terhadap suatu yang telah dijanjikan, dan ke­teledoran­mu terhadap suatu yang telah diwajibkan, men­jadi bukti re­dupnya mata hatimu.

Maka hendaknya bersemangat dalam menjalankan ibadah dan teguh dalam berkeyakinan bahwa janji Allah SWT. pasti akan datang.

إِنَّ اللهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيْعَادِ

Sungguh Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. (Qs : Ali ‘Imran : 9)

 Maka jangan meragukan janji Allah, adapun janji Allah itu bisa lewat mimpi yang benar atau melalui Malaikat dengan ilham rahmani-Nya, bahwa Allah akan menurunkan anugerah, pada suatu masa yang telah ditentukan. Ternyata janji tersebut belum terjadi, hendaknya kita mengoreksi diri.

Jangan malah menjadikan kita bermalas-malas untuk melaksanakan perintah dan kewajiban, itu menunjukkan redupnya mata hati kita. Sebab boleh jadi Allah SWT. menundanya, karena adanya suatu rahasia yang jauh lebih besar. Sebab Allah lebih mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Akan tetapi Allah tetap saja menjamin, memberi serta men­cukupi ke­butuhan dan keperluan manusia secara lengkap. Bekal hidup telah disediakan, tidak ada sedikitpun yang ku­rang. De­ngan di­tanggungnya se­gala keperluan hidup itu, agar kita tidak lagi ter­belenggu dengan gemer­lap dunia. Sebab Allah tiada meng­hendaki kecuali kebaikan dan kebahagiaaan, adapun terha­dap keburukan dan keseng­saraan itu adalah disebabkan oleh ulah tangan kita sendiri. Se­bagaimana Allah berfirman :

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja kebajikan (nikmat) yang terjadi padamu (engkau pero­leh) itu semua dari Allah, dan apa saja kejelekan (bencana) yang menimpamu (itu disebabkan ulah) dari dirimu sendiri. (QS. An-Nisa’ : 79).

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa, apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu kepa­damu?, mereka menjawab : “kebaikan bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia (menda­pat) kebaikan. Dan sungguh kampung akhirat adalah lebih baik, dan sebaik-baik kampung bagi orang-orang yang bertaq­wa”.  (QS. An-Nahl : 30).

Sehingga dengan segala kelengkapan anugerah pemberian itu, seo­rang bisa berfokus pada tujuan utama dicip­takan dirinya, yaitu: ibadah. Seba­gaimana firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah. ( QS. adz-Dzaariyat : 56)

Manusia hidup dunia bukan untuk berfoya-foya di dalamnya, adapun tujuan utama hanyalah untuk “ibadah”, dan harta kekayaan adalah merupakan bekal untuk ke­bahagiaan kam­pung akhirat, namun jangan sampai melupakan nasib kita di du­nia ini.

Allah SWT. Mengkisahkan:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَءَاتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ(76)وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(77)

Sungguh Qarun adalah kaum Nabi Musa, maka dia berlaku aniaya terhadap mereka (kaum Musa), padahal Kami menganu­ge­rahkan kepadanya perbendaharaan harta benda yang kunci-kuncinya saja sung­guh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ketika kaum (Musa) berkata kepadanya : “(hai Qarun) ja­nganlah kamu berfoya-foya, sesungguhnya Allah tidak suka ke­pada orang-orang berfoya-foya. Cari­lah (gu­nakan) terhadap anu­gerah (harta) yang telah dibe­rikan Allah kepadamu itu untuk keba­hagiaan kampung akhirat, dan ja­ngan engkau lupakan nasibmu dari dunia, dan berbuat baiklah kamu sebagai­mana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan ja­nganlah berbuat kerusakan di mu­ka bumi, karena sesung­guhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashhas :76-77).

Akan tetapi nasehat kaum Nabi Musa itu tidak diperhatikan­nya, malah dengan kesombongannya Qarun berkata, sebagaima­na berikut ini :
(Qarun) berkata : "Sungguh aku hanya diberi harta melim­pah itu, kare­na ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia (Qarun) ti­dak me­ngetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasa­kan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak me­ngumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mere­ka. Maka ke­luarlah (pamerlah) Qarun kepada kaumnya dalam kemegahan ­hartanya itu. Ber­katalah orang-orang yang meng­hendaki kehidupan dunia: "Semoga kiranya kita mempunyai (har­ta) seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesung­guhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu : "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang­ orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pa­hala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar". Maka Kami be­namkanlah Qarun beserta kemegahan (harta ben­da)nya ke dalam bu­mi. Maka tidak ada baginya seorangpun yang meno­long­nya terhadap adzab Allah. dan tiadalah ia terma­suk orang-orang (yang dapat) membela diri.  Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudu­kan Qarun itu. Berkata : "Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karuniaNya atas kita benar-benar Dia telah mem­benamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (ni`mat Allah)”. (QS. Al-Qashash : 79-82).

Maka ketika kita di­jadikan oleh Allah menjadi orang kaya raya, maka hendaknya kekayaan itu difungsikan sebagai bekal kita untuk pulang ke rumah keabadian di kampung akhirat. Dan janganlah mengikuti jejak Qarun yang tidak mau me­ngikuti nasehat kaum nabi Musa, yang akhirnya mati bersama hartanya ditelan bumi. Sehingga dalam sebuah maqolah dika­takan :

  إِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْسُ أَبَدًا وَاعْمَلْ  ِلآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

Beramallah untuk duniamu, seakan engkau hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu, seakan engkau be­sok pagi mati.

Kalimat “seakan hidup selamanya”, sebuah dead line yang masih panjang dan jauh, maka tenangkan hati dan jiwa kita, tidak perlu tergopoh-tergopoh, tergesa-gesa dan berpayah-payah. Jika saja kita dimaqomkan di situ hendaknya kita hudup kaya raya, jangan sampai hati kita terbujuk dengan pernak-pernik dunia itu, tetapi “apabila besok pagi mati”, adalah suatu kepastian yang tidak boleh ditawar-tawar la­gi, sebab ia pasti akan kita jalani dan harus segera diselesaikan se­belum ajal kematian datang menjemput kita. Ketele­doran sa­ma dengan penderitaan. Oleh sebab itulah rasulullah SAW. bersabda :
اَلتُّؤَدَةُ فِى كُلِّ شَيْءٍ خَيْرٌ اِلاَّ فِى عَمَلِ الْآخِرَةِ

Perlahan-lahan dalam segala sesuatu adalah lebih baik, kecuali dalam amalan akhirat. (HR. Abu Daud dan al-Hikam).

Sebab urusan akhirat adalah lebih baik dan lebih utama bagimu dari­pada dunia. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَلَـْلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ اْلأُوْلَى

Sungguh akhirat itu lebih baik bagimu daripada ula (dunia). (QS. Ad-Dhuha : 4 ).

Maka janganlah dunia bisa menutup bashirah kita dari me­lihat Allah SWT. sebab kesenangan di dunia ini hanyalah tipu daya, sedangkan akhirat adalah kebahagiaan yang abadi selamanya, sebagaimana realitas kematian yang pasti ter­jadi dan tak dapat kita pungkiri. Adapun kenyataan hidup di dunia senantiasa berubah-rubah dan berganti-ganti.

Marilah kita renungkan, ka­pan hari kita masih seorang bayi mungil, sesaat kemudian menjadi se­o­rang bocah, remaja, menjadi pemuda, dan kemu­dian menjadi dewasa yang gagah perkasa. Lantas kemu­dian menjadi tua renta, kemu­dian ajalpun akan menjemput kita.

Oleh sebab itulah Allah mengingatkan, agar kita hi­dup di du­nia ini senantiasa berhati-hati, sebab ia hanya tipuan yang tiada abadi. Sebagaimana firman-Nya :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ 

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini, kecuali kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali Imran [3] :185).

Dan perumpamaan amal orang-orang ka­fir itu di dunia hanyalah seperti fatamorna saja.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا

Dan amal orang-orang kafir itu, ibarat fatamorgana di atas tanah da­tar, sehingga orang yang kehausan mengira ada bayang-bayang air, hingga setelah didatanginya dia tidak menemukan suatu apapun. (QS. 39).

No comments:

Post a Comment