I.8 TATKALA TERBUKANYA GERBANG MA'RIFAT

8. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَـرُّفِ فَلاَ تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ


Tatkala Allah membuka gerbang ma’rifat untukmu, maka jangan pe­dulikan walau hanya sedikit amalmu.



Maka sungguh Dia tidak membukakan pintu ma’rifat ke­pada kita, melainkan Allah SWT. hanya ingin menyapa dan memper­kenalkan diri-Nya. Agar kita menyadari bahwa dibukanya pintu gerbang ma’­rifat itu adalah kehendak-Nya, bukan lan­taran banyak­nya amal kebaikan yang kita lakukan.



Arti ma’rifat adalah “mengenal”, maka jika Allah ber­kehendak membuka pintu “ma’rifat” itu untuk kita, bukan tanpa sebab. Karena tidak mungkin Allah mengenal kita apabila kita ti­dak mau mengenalnya. Sehingga apabila kita mau mengenal-Nya, tentu Dia juga akan mengenal kita. Atau makna lain dari ma’rifat adalah “bijak dan bajik”, maka barangsiapa dalam hidup ini bisa bernuat bajik dan bijak itu maka Allah SWT. akan melimpahkan baginya hikmah yang banyak sekali. Allah SWT. ber­firman :



فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنَ


Maka berdzikirlah kamu sekalian kepada-Ku, niscaya Aku berdzikir (pula) ke­padamu. Dan bersyukurlah kamu kepada-Ku dan jangan sekali-kali engkau ingkari. ( QS. Al-Baqarah : 152).



قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِيْ إِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي 


Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku ber­samanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingati Aku dalam dirinya, niscaya Aku juga akan mengingati dirinya dalam diri-Ku.  (HR. Bukhari dan Muslim).



حَدِيثُ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ


Diriwayatkan dari Ubadah bin as-Shamit r.a berkata: Nabi SAW. Bersabda : Barangsiapa suka bertemu Allah, maka Allah juga suka bertemu dengannya. Begitu juga barangsiapa tidak suka bertemu Allah, niscaya Allah juga tidak suka bertemu dengannya. (HR. Bukhari dan Muslim).



Sehingga banyak ayat-ayat al-Qur’an memerintahkan. 


ياَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا(41)وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً(42) هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلاَئِكَتَهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا(43)


Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah, de­ngan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah ke­pada-Nya di waktu pagi dan petang. (sebab) Dialah yang memberi rahmat kepadamu sekalian dan malaikat-Nya (memo­hon ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari ke­gelapan menuju cahaya (terang). Dan adalah Dia terhadap orang-orang mu’min Maha Penyayang.  (QS. Al-Ahzab : 41-43).



Adapun tatkala Allah berkehendak membuka gerbang ma’­rifat itu adalah kehendak-Nya, sah-sah saja, walau tidak sesuai dengan kedaan atau yang di­harapkan hamba. Tetapi walau se­orang berkehen­dak, betapapun sesuai keadaan dirinya dengan kehendak-Nya, sungguh bukan ia yang berkehendak, tetapi Allahlah yang punya kehendak.



وَمَا تَشَاءُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ


Tidaklah kamu berkehendak, kecuali Allah Tuhan semesta alamlah yang Berkehendak  (QS.  at-Takwiir : 29)

وَمَا تَشَاءُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا


Tidaklah kamu berkehendak, melainkan Allahlah yang berke­hendak. Sung­­guh Allah adalah Yang Maha Menge­tahui lagi Ma­ha Bijaksana. ( QS. al-Insaan 30 ).



Hal ini pernah dilakukan Allah SWT. kepada nabi Musa as. Dia berkehendak memperkenalkan diriNya, dan berkenan un­tuk ber­tajalli (menampakkan diri) dengan segala sifat-Nya. Supaya hamba tidak menyangka, semua itu terjadi karena kehendak­ dirinya sendiri, melainkan Allahlah yang menghendakinya. Tentang hal ini Allah SWT. telah mem­pertegas melalui sebu­ah contoh yang dialami Nabi Musa.



وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ.



Dan ketika Nabi Musa datang pada Miqat (waktu/tempat yang telah) Kami ten­tukan, dan berkatalah Tuhannya. Berkata­lah Musa : “Ya Rabbi, perlihatkan (diri-Mu) kepada­ku agar aku dapat melihat-Mu”. (Allah) berfirman : “Kamu tidak akan dapat melihat-Ku, tetapi lihatlah bukit itu, jika tetap tem­patnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabnya menampakkan (bertajalli) diri pada bukit, Dia jadikan bukit itu hancur dan Musapun jatuh pingsan. Maka ketika Musa telah sadar, beliau berkata : “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepa­da-Mu, dan akulah pemula orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf : 143). 



Pada kisah ini Musapun pingsan, maka dengan ping­san itu­lah Nabi Musa as. bisa merasakan dan dapat bermu­syahadah kepa­da-Nya lebih jelas daripada sewaktu ia sadarkan diri. Sebab indra jasad takkan sanggup menam­pung kemahabe­saran-Nya, sehingga ia diberi pingsan oleh-Nya. sehingga Nabi Musa as. dapat menyaksikan-Nya jauh lebih jelas, karena Allah terlah menampak­kan diri-Nya melalui indra ruhani.

 

Dikisahkan dua orang hamba Allah. Pertama, seorang ulama yang sudah ber-­mukasyafah, sebut saja kiyai Ahmad. Dan kedua, seorang ulama awam selanjutnya sebut saja kiyai Burhan. Pada suatu hari kiyai Ahmad mengajak kiyai Burhan pergi bertamasya. Akan tetapi kiyai Ahmad memberi syarat kepada kyai Burhan, bahwa di dalam perjalanan tamasyanya itu kyai Burhan dilarang berbi­cara sedikitpun, apalagi bertanya tentang sesuatu.

Setelah persyaratan telah disepakati, pergilah beliau berdua, kemudian mengawalinya dengan “Bismillahirrahmaanirrahiim”, berangkat­lah beliau ber­dua. Kini Kiyai Burhan sudah merasakan sebuah kea­nehan, ia se­akan naik sebuah kendaraan yang asing ia rasakan, di tengah-tengah banyak kendaraan berlalu lalang, akan tetapi kendaraan yang ia tumpangi itu tak pernah sekalipun terhalang. Dan akhir­nya mereka berdua sampa­ilah pada sebuah tempat yang sa­ngat indah menawan hati, se­galanya tersedia tanpa sedikitpun ada yang kurang.



Di tem­pat itu angin tiada semilir kencang, sepoi-poi menye­jukkan, semua makanan dan minuman yang di­sediakan, akan mem­bangkitkan gairah bagi siapapun yang me­mandang. Harumnya tempat itu tak pernah kyai Burhan rasa­kan, ataupun terhadap segala kein­dahan yang ia saksikanpun, selama ia hidup di du­nia ini tak per­nah sama sekali melihatnya, apa lagi mera­sakannya.



Singkat cerita, beliau berduapun pulanglah ke rumah ma­sing-masing. Akan tetapi kiyai Burhan suntuk tak bisa tidur, ka­rena menginginkan oleh-oleh yang di bawah oleh kiyai Ah­mad tersebut kemarin. Hal itulah yang menjadikan dirinya gelisah tak tertahankan. Dan akhirnya........ beliau berinisiatif, meminta kepada istrinya untuk mendatangi rumah kyai Ahmad. Sampa­ilah istri kyai Burhan di rumah Kyai Ahmad. Dengan mengucapkan salam, kemudian beliau menjumpai istri kyai Ahmad, dan serta merta meminta kepada istri kyai Ahmad untuk membe­rikan sedikit oleh-oleh dari apa yang diperolehnya kemarin itu, sebagaimana yang dipesankan kyai Burhan.



Setelah mendapatkan pe­sanan itu, si istri kyai Burhan lang­sung pulang, dan sesampainya di rumah oleh-oleh itu langsung saja diberikannya kepada kiyai Bur­han. Dan tak lagi menunggu waktu panjang, kiyai Burhan lang­sung saja me­nyantap maka­nan tersebut. Apa yang terjadi?!. Tak boleh dikata, ter­nyata seketika itu pula kiyai Bur­han jadi pingsan. Maka istri beliaupun merasa ketakutan, se­hingga pada akhirnya istri kyai Burhan melaporkan kejadian tersebut kepada kiyai Ah­mad. Dan serta merta kiyai Ahmad-pun langsung da­tang menjumpai kiyai Burhan yang didapatinya sedang pingsan.



Maka pada saat itu juga, beliau bangunkan kiyai Burhan. Setelah kiyai Burhan sadar diri, maka diceritakanlah apa yang telah terjadi. Kyai Ahmad berkata : “Kenapa engkau pingsan?". Katanya. Dan beliaupun melanjutkan kisahnya. “Ketahuilah olehmu,wahai Burhan, bahwa makanan yang kamu ma­kan itu adalah bukan makanan ahli dunia, akan tetapi semua itu adalah makanan yang dijadikan Allah SWT. untuk ahli surga. Se­hing­ga tanpa izin-Nya, panca indera manusia tak sanggup untuk merasakan­nya. Maka engkau di­pingsankan oleh-Nya, agar engkau dapat merasakan bagaima­na nikmat dan kelezatan makanan itu yang sesungguhnya”.



Mungkin anda mengira ini hanyalah sebuah cerita. Namun coba jika anda sendiri yang mengalaminya. Apakah pendapat anda?!. Jika ditanyakan, tatkala anda tidur tentunya semua perangkat indra jasadi berhenti. Sebab tidur ibarat mati. Namun tatkala anda bermimpi, menjadi orang kaya raya. Jarak dunia bagi anda telah menjadi dekat, sehingga ke manca negara merupakan jarak yang sangat dekat. Bahkan di dalam rumah anda, segala perabot rumah dan  balai-balainya saja terbuat dari intan permata, segalanya tersedia dari minuman aneka warna, sampai makanan yang tiada duanya. Taman-taman di depan rumah anda terpampang berbagai macam tetumbuhan dan bunga-bunga beraneka warna menawan indah.



Lantas tubuh, mata, telinga, mulut, kaki, tangan manakah yang anda gunakan dalam mimpi itu?!. Dan..... kemudian dalam sekejap anda terbangun. Kini anda telah sadarkan diri. Dan ternyata anda mengalami semua kejadian itu hanya dalam mimpi, yang realitanya hanya dalam beberapa waktu sekejap. Kemudian terhadap semua kejadian itu anda ceritakan kepada anak, istri, teman dan handai taulan.



Sadarkah anda bahwa tatkala tidur itu fikir, mata, telinga anda tak berfungsi?. Namun kenapa anda bisa ceritakan tentang semua yang terjadi. Inilah korelasi jasad ruhani dan jasad jasmani. Bukankah tatkala anda bermimpi indah, tentunya anda berkewajiban mandi basah?!. Dan bagaimanakah semua ini bisa terjadi.



Pada suatu hari, kami kedatangan seorang tamu kelahiran Western-Belanda, bernama Yacobus dan setelah masuk islam berganti nama menjadi Muhammad Ya’kub (-Mengenang 40 hari wafatnya beliau (23-11-2013)- semoga Alloh SWT. Menerima semua amal ibadahnya dan mengampuni segala dosa-dosa dan kekhilafannya. Amin). Kemudian beliau menceritakan tentang kisah dirinya. Sekian negara telah telah beliau kunjungi hingga belahan Eropa, akhirnya sampailah ia ke Indonesia tepatnya di kota Surabaya. Namun kebiasaan lamanya, suka mangkal di bar-bar dan diskotik. Pada suatu hari dia minum minuman keras dan menghisap narkoba hingga dirinya benar-benar mabuk berat tiadatara.



Namun saat dalam kondisi demikian itu, terjadilah sesuatu yang sangat mengagetkan, beliau mendengarkan suara keras tepat di telinganya. Suara itu benar-benar menjadikan dirinya tersadar, kemudian di dalam dadanya terus bergetar tiada henti, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, sementara di dalam dadanya ada suatu yang senantiasa menjadikan bergetar dan suara tersebut terus terngiang di telinganya.



Sejak saat itu beliau sudah tidak pernah lagi minum minuman berbau alkohol dan tak pernah lagi menghisap narkoba. Namun suara itu terus saja terdengar dan tak satupun orang yang bisa menjelaskannya, apalagi saat itu ia belum bisa berbahasa Indonesia. Akhirnya pada suatu malam ia bermimpi, dalam mimpinya itu dia dijumpai oleh seorang tua, kemudian beliau mengajaknya untuk “Bersyahadat” (alangkah bahagianya engkau wahai saudaraku sebab saat itu semua dosa-dosamu yang telah lalu telah diampuni oleh Allah SWT.), kemudian orang tua itu mengajarkan kepadanya berbagai ilmu hikmah. Sehingga kini ia banyak mengetahui akan berbagai ilmu hikmah, tentang suatu apakah yang harus dijalankan atau yang layak dijauhinya. Namun kini dia terus bertanya-tanya, tentang siapakah gerangan orang tua yang ada dalam mimpinya itu!.



Waktu terus berputar, hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seseorang tepatnya di kota pahlawan Surabaya. Beliau ceritakan semuanya yang terjadi, dan akhirnya diajak menemui seorang ketua Pendekar (meminjam istilah beliau) pada sebuah perguruan begitulah ia menyebutnya. Dan kemudian dia dimohon untuk tetap tinggal di pondoknya. Pada suatu ketika sambil melihat-lihat kondisi dan keadaan pondok serta perkembangannya, ditunjukkan pula  kepadanya akan perkembangan melaui agenda foto-foto kegiatan perkembanganya dari tahun ke tahun. Dan saat itu terperanjatlah hatinya tatkala pandangannya tertuju pada sebuah foto, yang ternyata foto tersebut adalah foto orang tua yang pernah datang dalam mimpinya. Dan yang menjadikan lebih kaget lagi adalah bahwa foto tersebut adalah foto ayah dari sang ketua perguruan yang sudah lama sekali telah meninggal dunia.



Demikian itulah cara Allah SWT. Mengajarkan ilmu kepada hambanya. “Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarimu”. (QS. Al-Baqarah [2]:282).

                     

قَالَ يَامُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالَاتِي وَبِكَلَامِي فَخُذْ مَا ءَاتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ.


(Allah) berfirman : “ Hai Musa sungguh Aku memilih (me­lebihkan) kamu atas manusia yang lain dengan membawa risa­lah dan dengan bicara lansung kepada-Ku. Maka ambillah (pe­lajaran) terhadap apa yang telah aku berikan kepada-Mu, dan jadilah kamu termasuk orang yang bersyukur”.  (QS. Al-A’raf : 144)

No comments:

Post a Comment